Jumat, 29 Agustus 2014

Gang Tempe Memutar Rp 4 Miliar Sebulan


Gang sempit di dekat kantor kelurahan Sunter Jaya, Jakarta Pusat itu, sungguh padat. Rumah penduduk dengan ukuran kecil dibangun berjejal-jejal. Di sepanjang lorong terlihat kesibukan warga mengolah kedelai menjadi tempe.

Begitulah suasana gang tempe sehari-hari. Siang dan malam, gang tempe tak pernah tidur. Aktivitas produksi dan distribusi silih berganti selama 24 jam.

Sebutan gang tempe mulai dikenal sejak dekade 70-an. Saat itulah usaha tempe bermula. Industri rumahan itu diawali beberapa warga pendatang dari Pekalongan, Jawa Tengah.

Pada pertengahan tahun 80-an, jumlah pengusaha tempe tradisional di kawasan itu berjumlah sekitar 100 orang. Namun saat ini tinggal separuhnya saja. Sebagian pindah dari gang tempe ke kawasan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, karena penggusuran.

Secara bisnis, tempe masih menjadi bidang usaha yang menjanjikan. Karena itu, kesibukan pengolahan kedelai di gang tempe masih tetap bertahan. Sebagian usaha bahkan sudah diteruskan oleh generasi kedua.

Setiap hari, industri tradisional di gang tempe menyerap sedikitnya 7,5 ton kedelai. Dalam sebulan, gang tempe menghabiskan 225 ton kedelai. Seluruhnya adalah kedelai impor.

Bila harga kedelai rata-rata Rp 8.200 per kilogram, perputaran modal di gang tempe sedikitnya mencapai Rp 1,8 miliar per bulan. Sedangkan omset penjualan diperkirakan mencapai Rp 2,4 miliar per bulan.

Meski terbukti tahan krisis, industri tempe rakyat bukanlah jenis usaha yang tanpa masalah. Apalagi setelah Koperasi Tahu dan Tempe di Sunter Jaya menutup operasi pada awal tahun 90-an.

Sejak itu, para pengusaha di gang tempe selalu menghadapi masalah. Stok dan harga bahan baku tidak stabil. Semua ditentukan tengkulak kedelai. Sementara harga jual tempe tidak bisa diubah-ubah setiap saat.

Produksi dari gang tempe umumnya dijual ke pasar tradisional. Hanya satu pengusaha yang sudah bisa memasukkan produknya ke pasar modern. Itu pun volumenya masih kecil.

Tohir adalah salah satu tokoh pengusaha di gang tempe yang bisa dibilang tahan banting. Mengawali usaha tempe sejak tahun 1988, Tohir kini mempekerjakan beberapa orang karyawan produksi. Setiap hari, Tohir mengolah sedikitnya 150 kilogram kedelai.

Buah jatuh-bangunnya sekarang mereka nikmati. Anak-anaknya tak lama lagi akan meraih gelar sarjana. Tohir dan istrinya juga akan segera menunaikan ibadah haji.

Tohir dan istrinya beribadah haji dengan fasilitas ONH Plus. Harganya Rp 110 juta per orang. Keberhasilan keluarga Tohir menunjukkan bahwa bisnis tempe di gang sempit itu seharusnya tidak dipandang enteng.

Nikamti videonya di sini: http://youtu.be/GTEurfy6VqI

Selasa, 12 Agustus 2014

''Tembol'' Inovasi Tempe Bolong


Obrolan ringan soal tempe inovatif antara saya dengan Danu dan Iman di teras 7 Eleven Cempaka Mas, pekan lalu, akhirnya menghasilkan tempe berbentuk donat. Iman menamakannya ''tembol'' alias ''tempe bolong''.

Inovasi tahap pertama menghasilkan bentuk desain tempe yang berbeda dari yang sudah ada. Selanjutnya akan dilakukan inovasi kedua, membuat tempe bolong itu masuk ke kategori lain, yakni kelompok makanan sehat dengan kedelai lokal Grobogan yang dikembangkan Pak Adi Widjaja .

Inovasi ketiga, tentu saja pada masalah komunikasi menyangkut strategi branding, strategi komunikasi dan strategi media. Sebab Tembol akan menyasar segmen yang berbeda dengan segmen tempe yang saat ini ada